

Pernah dengar teman atau bahkan kamu sendiri mengalami gigi rontok padahal usia masih “sat-set” muda?
Awalnya pasti mikir, “Ah, ini pasti karena genetik atau kurang kalsium.”
Ternyata, ada satu “pelaku” yang sering kita sepelekan, padahal dia adalah biang keladi di balik masalah gigi ompong dini: Stres.
Ya, benar. Beban pikiran, tugas kuliah, kerjaan numpuk, atau bahkan “quarter life crisis” bisa bikin gigi kamu jadi “red flag”.
Yuk, kita “spill the tea” kenapa orang yang sering stres giginya lebih cepat rusak dan rontok.
Hubungan antara pikiran dan kesehatan mulut itu erat banget, lho.
Stres bukan cuma bikin kamu gampang capek atau susah tidur, tapi juga memicu serangkaian reaksi kimia di tubuh yang langsung menyerang kesehatan gigi dan gusi.
Saat kamu stres, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin.
Hormon ini dirancang untuk mode “fight or flight,” tapi efek sampingnya ke mulut lumayan parah.
Peningkatan kortisol bisa menekan sistem kekebalan tubuh.
Akibatnya, mulut jadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri.
Gusi kamu yang tadinya kuat, jadi gampang meradang dan berdarah.
Coba jujur, kalau lagi “overthinking” atau “burnout” karena stres, apa yang sering terlewat?
Biasanya, rutinitas sederhana seperti sikat gigi dua kali sehari jadi malas dilakukan.
Sering juga kita jadi lebih sering ngemil makanan manis atau minum kopi berlebihan sebagai “comfort food”.
Kombinasi antara kebersihan yang menurun dan asupan gula yang tinggi adalah “combo maut” untuk bakteri penyebab gigi berlubang.
Stres memang pemicunya, tapi ada dua kondisi spesifik yang menjadi “eksekutor” langsung yang merusak gigi dan gusi sampai akhirnya rontok.
Bruxism adalah kebiasaan menggesekkan (menggertakkan) atau mengatupkan (mengunci) gigi secara tidak sadar.
Ini sering terjadi saat kamu tidur atau bahkan saat kamu sedang fokus kerja/belajar.
Penyebab utama bruxism pada orang dewasa muda adalah stres dan kecemasan.
Tekanan yang dihasilkan saat menggertakkan gigi ini luar biasa kuat, jauh lebih kuat daripada saat kita mengunyah makanan.
Dampaknya, lapisan pelindung gigi (enamel) jadi terkikis, gigi retak, bahkan bisa sampai patah.
Selain itu, rahang juga akan terasa sakit, kaku, dan menimbulkan sakit kepala saat bangun tidur.
Ini adalah masalah gusi yang paling serius, dikenal juga sebagai penyakit gusi tingkat lanjut.
Awalnya hanya radang gusi biasa (gingivitis) karena plak menumpuk.
Namun, ketika tubuh sedang stres (imunitas turun), peradangan ini cepat sekali memburuk menjadi periodontitis.
Pada kondisi ini, bakteri tidak hanya menyerang gusi, tapi juga jaringan dan tulang penyangga gigi.
Tulang penyangga gigi (alveolar bone) akan terkikis.
Ketika tulang penyangga sudah hilang, gigi akan mulai goyang dan akhirnya rontok.
Inilah alasan utama kenapa gigi ompong bisa terjadi di usia muda, bukan cuma karena gigi berlubang.
Kabar baiknya, kerusakan ini bisa dicegah dan ditangani, asalkan kamu mau “healing” baik secara mental maupun dental.
Ini adalah langkah cepat yang harus kamu lakukan untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut.
Jika akarnya adalah stres, maka akarnya yang harus dicabut.
Mengelola stres adalah investasi terbaik untuk kesehatan gigi jangka panjang.
Self-Care Itu Penting: Jadwalkan waktu untuk “me time” atau melakukan hobi yang kamu sukai. Ini bisa jadi “healing” yang ampuh dari tekanan harian.
Kalau kamu mulai ngerasa gigi sering ngilu, rahang pegal saat bangun tidur, atau gusi gampang berdarah karena stres, jangan tunggu sampai makin parah. Konsultasi ke Klinik Gigi Ayo Dent, salah satu rekomendasi Klinik Gigi Makassar yang siap bantu cek kondisi gigi dan gusi kamu secara menyeluruh, dengan pendekatan yang nyaman dan ramah buat usia muda.
Tergantung tingkat kerusakannya.
Jika kegoyangan masih ringan dan tulang penyangga belum terlalu parah terkikis (periodontitis awal), perawatan intensif dari dokter gigi (seperti root planing) dan kontrol stres bisa menyelamatkannya.
Namun, jika sudah sangat parah, pencabutan mungkin diperlukan.
Efeknya bisa cepat, terutama melalui bruxism.
Gigi bisa terkikis dalam hitungan bulan jika kamu menggertakkannya setiap malam.
Sementara itu, periodontitis akibat stres bisa memburuk lebih cepat dalam hitungan minggu atau bulan, terutama jika kebersihan mulut juga buruk.
Implan gigi memang solusi terbaik karena menyerupai gigi asli, tapi biayanya tinggi.
Alternatif lain yang lebih terjangkau adalah pemasangan gigi palsu lepasan (denture) atau jembatan gigi (bridge).
Konsultasikan dengan dokter gigi untuk memilih opsi yang paling cocok dengan kondisi rahang dan anggaranmu.